[language-switcher]

Two hundred years of legacy and heritage

Kalimat di atas merupakan headline untuk pameran sketsa Indonesia’s Sketchers (IS), hasil kerjasama IS dengan Kedutaan Besar Belanda dan Erasmus Huis dalam rangka memperingati 200 tahun berdirinya Kerajaan Belanda. Pameran yang menggelar 30 karya sketsa ukuran A# dan 7 accordeon sketchbook ini melibatkan 30 artist dari 6 kota di Indonesia; Jakarta, Bogor, Bandung, Jogyakarta, Semarang, dan Surabaya ditambah beberapa sketchers dari masing-masing kota sebagai cabang IS di daerah. Obyek sketsa merupakan bangunan peninggalan masa lampau pasca VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang banyak tersebar di kota-kota di Indonesia.

Satu kesempatan yang baik bagi IS untuk dapat tampil diri dalam upaya menguatkan eksistensinya sebagai komunitas sketsa, disamping juga sebagai upaya untuk lebih mendekatkan seni sketsa (live sketching) kepada masyarakat luas terutama generasi mudanya.

Pameran yang sedang berlangsung hingga 30 April 2015 ini merupakan pameran nasional pertama IS karena melibatkan seluruh komunitas IS daerah. Tak mudah mewujudkan satu kegiatan pameran yang cukup representatif seperti kali ini, perlu kerja keras serta dedikasi yang cukup mengingat sebagian sketchers yang terlibat aktif dalam kesibukan mereka sehari-hari, baik sebagai pekerja kantor atau profesional.

Disamping pameran, IS juga menggelar workshop, sketchwalk dan sketchtalk. Ketiga kegiatan ini lebih diutamakan untuk kaum muda; pelajar dan mahasiswa.

Semoga pameran kali ini mampu menjadi pemicu bagi IS untuk lebih banyak menjalin kerjasama dengan berbagai pihak agar bisa menyelenggarakan kegiatan budaya serupa dalam rangka lebih mendekatkan seni sketsa kepada masyarakat luas.

Berikut hasil liputan singkatnya. Enjoy it!

Acara pembukaan dibuka oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia; Mr Rob Swartbol.
Pose sejenak…

Dari kiri ke kanan: Mr Ton van Zeeland (direktur Teater dan Galeri Erasmus Huis), Atit Indarty (IS founder),

Yanuar Ikhsan (Ketua IS), Mr Rob Swartbol (Duta Besar Belanda), saya dan Donald Saluling (Ketua Pameran)

Sebelas dari 30 peserta pameran.

Dari kiri ke kanan: Yoso Bayudono, Seto parama Artho, Donald saluling, Wahyu SP, saya, Artyan Trihandono,

Nino Puriando, Iqbal Amirdha, Soleh Hadiyana, Yanuar Ikhsan dan Hani Handayani.

Suasana ceria penuh keakraban…
Acara workshop dan sketchwalk selama 2 hari di 4 lokasi di Jakarta.
Sketchtalk; presentasi hasil karya dari peserta workshop dengan dipandu oleh Kris Wardhana, Nashir setiawan,

Donald Saluling, Benny Zhuang, Toni Malakian dan saya sendiri.

Clockwise: Senoaji Wijanarko, Aryo Sunaryo, Iqbal Amirdha, Yulianto Qin, Kris Wardhana, Hani Handayani.
Clockwise: Yandi Prayudhi, Wahyu SP, Yuventus Win, Toni Malakian, Dhar Cedhar, Darman Angir.
Clockwise: Harry Suryo, Nashir Setiawan, Gunawan Wibisono, Adji setiawan, Artyan Trihandono, Jatmika Jati.
Clockwise: Yanuar Ikhsan, Andry Daud, Erick Eko Pramono, Donald Saluling, Nino Puriando, Yoso Bayudono.
Clockwise: Soleh Hadiyana, Muhammad Thamrin, Yoes Wibowo, Seto Parama Artho, Benny Zhuang, Rudi Hartanto.

The Making.

Bagi kami yang biasa membuat sketsa dengan sketchbook dengan ukuran yang relatif kecil (A6, A5 atao A4), tidaklah mudah ketika dituntut untuk membuat dalam format A3. Ukuran pena terpaksa menentukan sesuai dengan format kertas agar garis yang dihasilkan proporsional.

Saat membuat Menara Syahbandar saya harus membuat beberapa thumbnail, dimana saya tidak pernah melakukannya saat bersketsa di sketchbook.

Hampir sebagian besar sketcher di setiap kota mengalami masalah yang sama, yaitu cuaca. Hujan dan panas yang ekstrim cukup mengganggu kami saat kegiatan menggambar berlangsung. Saya sendiri sempat mengulanginya sampai 2 kali. Kali ke dua baru saya mendapatkan hasil yang sesuai dengan kehendak…

Menara Syahbandar dibangun tahun 1839. Dahulu menara ini berfungsi sebagai menara pengawas untuk kapal-kapal yang keluar-masuk Pelabuhan Sunda Kelapa. Kini kondisi menara ini sudah miring. Kemungkinan akibat pengaruh dari pembangunan sekitar dan getaran yang diakibatkan oleh kendaraan berat yang lalu lalang tepat dibelakangnya.
Panas terik dan bau yang tidak sedap membuat konsentrasi menurun drastis!

Hampir 4 jam saya bergelut dengan situasi seperti ini sebelum gerimis menghentikan tangan saya, kemudian berkemas kembali ke menara untuk berteduh dan meneruskannya sambil menunggu hujan reda. Finishing touch saya lakukan di rumah karena hari mulai gelap…

Foto-foto doc. Indonesia’s Sketchers

Share

Recent Posts

Open call for the USk Reportage Grant Program 2026

Visual historians: the power of reportage sketching Sketching has a unique way...

Read More

Drawing Attention March 2026

  Remember to select FULL SCREEN. To read Drawing Attention as a...

Read More

USk Workshop – Wonkiness that works: four keys to fearless drawing

USK Workshop – August 7-9 2026 (Oslo, Norway) About the workshop: Get...

Read More

Call for Urban Sketchers Communications Director (Volunteer Position)

Are you an Urban Sketcher with experience in communications and a desire...

Read More